RSS

Faktor Budaya di Sulawesi

05 Mar

Ronie Bahlul, tampaknya berasal dari Sulawesi Selatan, bercerita tentang keadaan Gizi Buruk di Daerah Pinggiran Makasar. Berikut ini adalah penuturan Roni yang diceritakan di Cause dan pendapatnya tentang Kasus Gizi Buruk yang terjadi di Makasar pinggiran.

Salah satu hak dasar sebagai seorang manusia yaitu hidup sehat. Hal tersebut telah banyak terealisasi dari program pemerintah seperti JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat), ASKESKIN (Asuransi kesehatan Miskin) dan beberapa lagi diantara yang sekian dari hal yang serupa dengan itu. Namun yang menjadi pertanyaan “apakah semua masyarakat mendapatkan jaminan kesehatan dari pemerintah, apakah penyebaran jaminan kesehatan itu merata di semua masyarakat golongan bawah? Adapun mereka yang mendapatkan jaminan kesehatan yang serupa dengan yang diatas, tetapi apakah mereka rutin untuk meng-update informasi dan melaksanakan anjuran yang mereka dapatkan.
Dari beberapa pendapat yang sudah dikeluarkan, alasan yang menyebabkan Gizi Buruk pada Anak, yaitu kurangnya pengetahuan sang ibu tentang asupan gizi pada balitanya, tentang masalah ekonomi rumah tangganya dan kesibukan sang ibu diluar rumah. Factor tersebut memang sangat besar pengaruhnya pada perkembangan hidup si bayi, lebih lagi ketika seorang ibu hanya sibuk dengan urusan financial rumah tangganya.
Ada beberapa kasus yang pernah saya dapatkan pada saat saya berada dilapangan (Sulawesi Selatan), yang pertama berkaitan dengan masalah ekonomi rumah tangga. Beberapa dari masyarakat telah mendapatkan pengetahuan tentang gizi untuk balitanya, namun mereka tidak mampu untuk mendapatkannya (kasus ini banyak terjadi pada masyarakat dipinggiran Kota Makassar). Mereka tidak mampu untuk mengganti asupan gizi dengan konsumsi lokal karena mereka mengikuti kultur kota yang semua sumber kehidupan harus dibeli.
Yang kedua, masyarakat yang ada di beberapa kabupaten yang ada di SUL-SEL memiliki potensi untuk mengganti asupan gizi dengan sumber daya lokal tetapi tidak paham dengan kandungan gizi yang mereka berikan pada anaknya. Pengetahuan yang mereka miliki tentang asupan gizi untuk balita memang tidak mereka miliki secara pasti. Hanya saja mereka mengikuti kebiasaan/budaya dari masyarakat tersebut. Masih lebih baik jika kebiasaan yang mereka tiru dari budaya sebelumnya memang sudah terbukti, ada beberapa dari masyarakat yang memang tidak dapat menjangkau pusat pelayanan diakibatkan karena pusat pelayanan kesehatan tidak dapat terjangkau karena keberadaan mereka yang memang jauh dari tempat tersebut hanya dapat memperlakukan anaknya secara apa adanya (yang penting anak mereka mendapatkan makanan, kenyang dan tidak menangis).
Dari kedua kasus ini dan pertanyaan awal yang saya lemparkan, saya hanya bisa memberikan masukan bahwa gizi buruk yang terjadi di negara kita ini dipengaruhi oleh kinerja pemerintah dan stakeholder yang berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat belum terlaksana secara masksimal dan objektif dalam memberikan pelayanan. Kultur yang mempengaruhi masyarakat dan jangkauan masrakat.

Tampaknya Faktor Budaya/Adat/Perilaku memang juga mempengaruhi bagaimana seorang balita akan menjadi Gizi Buruk. Sebagai contoh tambahan di masyarakat sekeliling saya, peran sentral Bapak masih sangat dirasakan dan Bapak adalah orang yang mendapatkan segalanya lebih dulu. Sehingga anak bisa saja menderita kekurangan gizi, tapi orangtua yang bekerja mencari nafkah tetap harus mendapatkan asupan gizi terbaik.

Bagaimana pendapat teman-teman?

post ini dibuat dengan windows live writer ® yg dapat anda temukan di blog pom | hkn | idi | pkm

 
9 Comments

Posted by on 05/03/2009 in Gizi Buruk, Kesehatan

 

Tags:

9 responses to “Faktor Budaya di Sulawesi

  1. aRuL

    05/03/2009 at 21:53

    budaya? hmm ndak yakin dok😀

     
  2. aRuL

    05/03/2009 at 23:55

    semua relatif dok, semua bisa jadi alasan😀 hehehe😀

     
    • draguscn

      06/03/2009 at 00:02

      Mas aRul kan dari sana .. cerita dong apa yang terjadi dengan gizi buruk disana ? kalau memang bukan karena budaya, apa klise seperti ngga ada duit ngga makan bergizi atau ada khas lainnya yang beda dengan jawa timur sini deh ?

       
  3. Lynda

    06/03/2009 at 08:26

    Setelah gw baca…kesimpulannya bukan budaya..well..budaya ada pegang peranan dikit sih..tapi faktor ekonomi dan pengetahuanlah intinya. Lah…orang Sul-Sel yang kaya dan berpendidikan gak akan punya masalah di atas (paling-paling kalo anaknya akirnya kurang gizi itu karena orangtuanya yang kurang telaten ngurus anak baik itu karena sibuk banget..maupun gak menjalankan tanggung jawabnya sebagai orangtua dengan benar – misalnya orang kaya, berpendidikan, dan punya banyak waktu luang/gak sibuk..tapi malesss banget ngurus anak..si ibu doyannya arisan dan si bapak doyan dugem…anaknya kurang gizilah!).
    Di Papua misalnya (karena gw pernah ke sana), banyak anak yang kurang gizi..ya karena mereka nggak berpendidikan sehingga mereka nggak punya daya untuk mendobrak budaya nenek moyang yang terbelakang.
    So..intinya sih ekonomi, pendidikan/pengetahuan, kesadaran /awareness tanggung jawab sebagai orangtua, dan yah…faktor personal juga.

     
    • draguscn

      06/03/2009 at 09:43

      tampaknya gitu yach .. Mungkin ada yg belum disampaikan ..

       
  4. omiyan

    06/03/2009 at 16:15

    yang jelas fungsi aparat pemerintahan dari yang tinggi hingga tingkat RT seharusnya berperan aktif dalam menaggulangi masalah ini cuman permasalahannya sekarang untuk menjadi orang perduli terhadap sesama kayaknya susah setengah mati kalaupun ada bakal dicurigai duluan

     
    • draguscn

      09/03/2009 at 15:57

      mungkin itu juga karena kitanya berprasangka ..

       
  5. nan

    16/03/2009 at 12:58

    lam kenal dok.
    waktu saya di PKM Mksr (sekarang saya lagi tugas belajar jadi cuti ngantor), gizi buruk adalah wacana yang paling santer kalo bukan dibilang paling dahsyat bikin kita jadi kalang kabut.faktor budaya memang mendukung, dimana patriarki masih cukup kental (tapi sepertinya di tempat lain juga kok), bahwa segala makanan yang bagus2 didahulukan untuk sang bapak baru kemudian ke keluarga lain, lalu anak. itu untuk yang golongan ekonomi subordinat. PKM yang melakukan program penambahan gizi sebetulnya sudah berupaya untuk memotong rantai tsb dgn memberi makanan tambahan, tapi, sayangnya sering terkendala oleh dana dan SDM, sosialisasi dan informasi untuk masyarakat masih banyak yang kurang sampai atau kurang tepat sasaran. itu di kotanya lho, entah bagaimana dengan yang di daerah / pelosok. untuk ekonomi ke atas lain lagi, mereka terjangkit oleh fast-food minded, yang membuat jadi cenderung obes.. (kata siapa gizi lebih itu bukannya buruk?)

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: