RSS

Gizi Buruk kok dari Keluarga Mampu

06 Jan

Memang sulit kalo yang namanya gizi buruk karena sebab-sebab sosial di masyarakat, maka pasti tidak akan sama dengan persamaan yang umum terjadi : Keluarga Miskin –> Asupan Kurang –> Gizi Buruk. Kemaren ini contohnya saya menerima pasien An. J, perempuan, 13 bulan, BB = 6 kg, TB = 67,8 cm. Kalau dimasukkan ke dalam perhitungan BB/U-nya sudah masuk dalam Gizi Buruk (sedangkan untuk BB/TB masuk dalam kriteria Kurus. Anak memang kurus kering, mulai dari truncus (=badan), ekstremitas (tangan dan kaki) dan menyisakan lemak di sekitar mata dan pipi saja yang masih terlihat agak berisi. Anak ini sudah tergolong marasmus.

jazilatul

Nah keluarga dari an. J ini adalah keluarga yang tidak mendapatkan kartu Jamkesmas. Berarti pada saat dinilai oleh tim desa keluarga ini tergolong dalam keluarga mampu. Memang sejak saat masuk perawatan pun mereka tidak menuntut untuk ‘mengurus kartu’ demikian istilah masyarakat sini bila tergolong dalam gakin (keluarga miskin).

Sebagai puskesmas yang sudah mengklaim mampu menjadi TFC (Therapeutic Feeding Center) tentu saja melihat kasus ini dan melihat kondisi infeksi yg diderita tergolong ringan, kami menyarankan rawat inap di puskesmas saja. Di TFC kami melaksanakan standar penanganan gizi buruk terbitan Depkes 2007. Kemudian bila ternyata pasien sudah masuk dalam gizi kurang kami akan melaksanakan Community-based Feeding Care. Konsep ini digagas tahun lalu 2007 dengan menambahkan Pos Pelayanan Gizi dan Public Health Nursing pada konsep yang telah dibuat oleh depkes. Dengan demikian kami merasa menjaga dengan baik anak yang gizi buruk. Apalagi dana APBN (baca dana JPKMM) bisa dipergunakan untuk menolong gizi buruk meskipun tidak berasal dari keluarga miskin.

Kembali pada cerita kasus ini .. hari ini pada saat visite asupan susu F-75 sebagai standar pemberian anak gizi buruk yang dirawat pertama kali ternyata ditolak oleh anak. Kata ibunya, anak meminumnya tapi kemudian disembur-semburkan. Biasanya bila asupan sulit dimasukkan melalui mulut maka kami mengambil langkah tindakan sonde, dan memasukkan susu langsung ke lambung anak melalui selang sonde tersebut. Berhubung keluarga ini adalah keluarga mampu, yang berarti tidak ditanggung jamkesmas, maka tentu saja biaya perawatannya akan menjadi lebih tinggi.

 

Saya mencoba menghubungi dinas kesehatan dan direktur RSUD untuk menanyakan apakah masih ada dana yang digunakan untuk memberikan pertolongan pada masyarakat kelas tanggung seperti diatas. Karena bila ada maka pasien bisa dirawat di Rumah Sakit.

Ternyata setelah mengetahui anaknya akan dibawa ke rumah sakit, si ibu dan keluarganya memutuskan membawa anak langsung pulang ke rumah. Dengan berbagai macam motivasi sudah diberikan tapi keluarga tetap menolak. Maka akhirnya dengan sangat terpaksa Surat Penolakan rujukan pun kami mintakan keluarga untuk menandatangani.

Sedikit tentang Program Peningkatan Gizi Masyarakat

Tidak sedikit kasus seperti ini terjadi, meskipun tentu saja ini tidak didiamkan saja namun kebanyakan kasus seperti ini berbuah kegagalan pengelolaan yang komprehensif kasus gizi buruk. Selain di puskesmas rawat inap, kasus gizi buruk selalu dicoba tangani dengan melakukan rawat jalan terhadap pasien-pasien yang memang tidak mau dilakukan rujukan. Alasan jauh dari rumah, tidak ada uang dan berbagai alasan klise lainnya sudah sering kami terima. Banyak kasus berhasil bila penanganan cukup sampai di Puskesmas saja, dalam arti anak tidak mengalami komplikasi yang cukup berat. Tapi bila sudah dengan penyakit penyerta yang berat biasanya terpaksa di rawat di RS dan berujung pulang paksa karena kehabisan uang bagi penunggu pasien.

Di beberapa program penanggulangan gizi buruk terdahulu dengan sumber dana APBN pernah ada perhatian kepada penunggu (orangtua, biasanya) dengan memberikan biaya makan pada saat perawatan.

Selain memperhatikan masalah teknis medis, pemberdayaan masyarakat dan program terkait lainnya juga seharusnya menjadi perhatian. Pemberdayaan masyarakat melalui desa siaga sudah mungkin bisa memberikan umpan balik positif dengan makin banyaknya penemuan gizi buruk. Hal ini bukan berarti angka kesakitan meningkat. Akan tetapi dulu ada tapi tidak terdeteksi. Tidak sedikit yang diantarkan oleh orang tuanya, kader, atau tokoh masyarakat ke puskesmas untuk diobati gizi buruknya.

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium

Dari sekian banyak hal salah satu yang cukup permanen dari tahun ke tahun menduduki peringkat 5 besar masalah adalah tidak digunakannya garam beriodium di masyarakat yang berujung beberapa masalah kesehatan (masih prediksi) misalnya : kejadian abortus yg selalu ada, gondok endemik itu sendiri, berat bayi lahir rendah (BBLR) dll. Hal ini tentu saja cukup menggemaskan mengingat betapa mudahnya sekarang ini mendapatkan garam yang sudah difortifikasi iodium. Namun demikian beberapa perusahaan garam yang masih memproduksi garam untuk hewan ternyata masih kelolosan mengeluarkan garam tersebut untuk disantap manusia. Kadang-kadang dari pabrik garam ada yang membawa dengan becak tumpukan garam yang belum difortifikasi ke rumah tangga dan dibagikan di tetangga-tetangganya.

Sehubungan dengan BBLR merupakan faktor resiko terjadinya Gizi buruk pada balita maka tentunya penegakan perda tentang produksi garam ini sudah harus benar-benar ditegakkan.

Positive Deviance

Dalam masyarakat miskin, ada saja yang balitanya tumbuh dengan gizi baik. Ini tentu saja suatu keuntungan tersendiri. Keluarga miskin dengan balita gizi baik inilah yang disebut sebagai simpangan positif, positif deviance. Keluarga miskin dengan pola makan dari produk lokal ini tentu patut ditiru, karenanya program ini pun dikemas dengan bentuk suatu Pemberian Makanan Tambahan kepada balita dari keluarga miskin. Ibu dan balita diundang dalam suatu pertemuan rutin kemudian disana sang ibu dari balita gizi baik tadi diminta memberikan testimoni dan demo memasak bersama makanan lokal tadi.

Biasanya meskipun secara kebetulan, makanan yang dimasak memenuhi menu seimbang yang menyebabkan keluarga tersebut tidak mengalami kekurangan gizi. Misalkan saja meski tanpa sengaja ibu memasak sayuran, buah dan makanan yg mengandung vitamin larut dalam lemak (A, D, E, K) dengan masakan yang mengandung santan. Nah dengan demikian bisa terjadi asupan vitamin tersebut. Demikian seterusnya.

Sebagai penutup postingan ini .. untuk menanggulangi gizi buruk, perlu sekali adanya berbagai program terpadu dalam menangani secara teknis balita gizi buruk tadi, melakukan pencegahan dan rehabilitasi kembali gizi buruk.

ASI, air susu ibu, keuntungan, kelebihan

 


post ini dibuat dengan windows live writer ® yg dapat anda temukan di blog pom | hkn | idi 

 
15 Comments

Posted by on 06/01/2009 in Gizi Buruk, Kesehatan

 

Tags:

15 responses to “Gizi Buruk kok dari Keluarga Mampu

  1. Andi Sugiarto

    09/01/2009 at 22:39

    maklum dualisme problem gizi yang belum bisa ditangani secara tuntas oleh pemerintah a.k.a depkes.

     
    • draguscn

      09/01/2009 at 22:40

      yang lebih kocak lagi pemerintah daerah bisa-bisanya menghilangkan juga penanganan masalah gizi buruk .. mungkin karena dikira semua sudah terantisipasi dari dana APBN (jamkesmas) atau mengira bahwa yang gizi buruk itu hanya melanda orang-orang miskin .. padahal di lapangan yang bikin bingung justru yang dari orang mampu itu ..

       
  2. ãñÐrî ñâwáwï

    18/01/2009 at 20:30

    tok tok tok…
    Assalamu’alaikum,
    Wahh nice post dr. Agus, mudah2an kedepannya tidak ada lagi Gizi Buruk di Indonesia tercinta kita ini.

    CU Arround & Wassalam…😉

     
    • draguscn

      19/01/2009 at 06:45

      Alaikum salam .. ya .. dengan harapan yang sama .. Luar biasa susah lo memberantasnya ..

       
  3. limpo50

    01/02/2009 at 14:22

    memang Pak, kayaknya dibutuhkan cara membuat anak mau makan. Masalahnya bisa bukan pada anaknya …tapi malah pada orang tuanya yang bisa gara-gara terlalu memanjakan sampai kasih makanpun ia kasihan… .Saya juga banyak menemukan kasus begini.
    Salam… Lama tak BBASUO Pak.

     
  4. r380

    08/02/2009 at 06:55

    Sepertinya lebih ke kekurangtahuan orang tua ya Dok. Soalnya ibu saya pernah mengomeli tante saya yang anaknya nyaris kekurangan gizi karena kurang mengerti. Padahal tante saya keluarga mampu. Untung ketahuan ma ibu saya yang mantan perawat 😀

     
  5. larashendra

    13/02/2009 at 09:30

    dr. Agus anak saya kelebihan gizi bagaimana cara mengatasinya? usia nak saya 4 tahun tinggi 120 berat badan 38 kg, saya takut sekali semakin menjadi

     
  6. Strife Leonhart

    13/02/2009 at 23:54

    (woot) *kebiasaan ngeplurk*

    indonesia memang unik :d

     
  7. draguscn

    14/02/2009 at 16:33

    @Larashendra
    Mohon maaf saya belum bisa jawab nanti akan saya beritahukan bila sudah selesai semua saya kerjakan groupnya ..

    @Akhy
    Yap dengan segala keanekaragaman suku dan prilaku ..

     
  8. ndan kamandanu

    15/03/2009 at 20:25

    Pengetahuan tentang Gizi dalam masyarakat masih sangat minim, kalau toch ada yang “sudah /merasa” tahu, itupun dengan pengertian yang beragam.
    Selain kenyataan seperti tersebut diatas, kepedulian tentang pentingnya Gizi yang (umumnya) lebih diartikan bagi pertumbuhan dan perkembangan phisik semata dan belum dianggap sebagai suatu ancaman seperti halnya penyakit. Dengan kata lain, masyarakat menganggap bahwa makanan “sehat” itu adalah makanan yang bersih, telah dimasak secara matang, tanpa peduli terhadap jenis maupun kadar asupan yang dikandung dalam makanan tersebut.

    Berbeda lagi perilaku masyarakat terhadap jenis2 makanan yang dipercaya mengandung unsur yang dapat mengakibatkan terkena penyakit, misalnya makanan yang bisa mengakibatkan Rheumatik,Asam urat, Kolesterol dan lain sebagainya, maka dalam hal ini masyarakat akan cepat responsif dan dengan kesadaran sendiri sanggup menjalani “pantangan” untuk tidak/mengurangi mengkomsumsi makan2 yang dianggap berbahaya tersebut.

    Belum lagi, ada anggapan di masyarakat bahwa makan yang ber-Gizi adalah makanan “mahal”. Sedangkan, pada kebanyakan masyarakat urutan dalam menentukan makanan lebih ditentukan oleh faktor Murah (biaya), Banyak (kenyang/puas), Enak (Selera/nikmat) dan Sehat (bersih). Sedang faktor Gizi menjadi hal yang terakhir kalau bukan dikatakan terabaikan.

    Dari berbagai hal yang menjadi kenyataan diatas, maka merupakan Program Kerja yang sangat “Kompleks dan Kronis” yang harus dihadapi oleh instansi yang membidangi masalah ini, termasuk keterlibatan lembaga/kelompok masyarakat yang peduli dalam bidang Kesehatan Masyarakat.

    Bukan hal yang mustahil sepanjang program kerja tersebut, mulai dari sosialisasi, pendidikan dan penerapannya dilakukan secara serentak,menyeluruh dan bertahap. Mungkin sebagai contoh, dapat mengulang sejarah keberhasilan Program Keluarga Berencana yang pernah dilakukan.

    Terima kasih.

     
  9. Jeanny R

    15/03/2009 at 20:55

    Menurut saya, salah 1 penyebab gizi buruk dikalangan kel.mampu bukan karena makanan yang disediakan, tapi dari tata cara memberi makan anak,
    seringkali orangtua atau orang yang bertugas,
    memberi makan anak dengan ber-jalan2, atau
    membiarkan anak makan sambil ber-lari2/bermain, atau
    membiarkan anak menyimpan makanan terlalu lama di dalam mulut, sampai harus butuh waktu ber-jam2 untuk menghabiskannya,
    ketika si anak ke-capek-an, bosan, akhirnya makanannya nggak habis…
    begitu juga dengan pemberian cemilan atau susu yang tidak tepat waktu..
    jadi saya rasa, setiap orang yg.berperan dalam kehidupan anak se-hari2 harus mengerti ini dulu, dan tahu bagaimana men-disiplin-kan anak2 dalam acara makan , dengan cara2 lembut tapi tegas…Apakah hal2 begini masih perlu di sosialisasikan dulu ya dok???..
    mungkin peranan ibu2 pengurus PKK di setiap lingkungan akan sangat berarti untuk menyosialisasikannya..
    Semoga akan bertambah banyak anak2 cukup gizi di negeri tercinta kita ya dok…
    salam sukses…

     
    • draguscn

      15/03/2009 at 21:12

      @Ndan
      @Jeany

      makasih tambahannya .. wew .. bisa ngga ya kita bikin seperti itu ?

       
    • ina phw

      17/03/2009 at 23:27

      menarik juga topiknya…perkembangan baru dan tambah masalah lagi…lingkaran setan sebab akibat dari masalah gizi buruk terjadi belum tuntas diselesaikan…ternyata tampak lagi yang mendalam masalah gizi terjadi pada keluarga mampu..dualisme perkembangan…zaman serba instant dan kesibukan atau ketidaktahuan penyebab hal ini…perlu dikembangkan bentuk penyuluhan yang sistematis..

       
  10. tisya

    16/03/2009 at 21:36

    topik yang menarik…

     
    • draguscn

      17/03/2009 at 05:59

      Makasih, sy dah melakukan kunjungan balasan ..
      keren mba, blognya .. informatif. Terus berkarya ..
      Salam

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: