RSS

Lihatlah: "Anak-Anak Kelaparan"

22 Mar

Lefidus Malau menulis tulisan panjang ini ..

kelaparanKelaparan yang mengakibatkan gizi buruk dan kurang gizi seperti yang diderita anak-anak di NTB, NTT, Papua, Lampung dan berbagai wilayah lainnya bukanlah kejadian yang tiba-tiba muncul di Indonesia. Berbagai survei, penelitian dan berita media massa selalu mengulang laporan yang mengungkap kondisi bayi dan anak balita yang menderita kelaparan di berbagai wilayah Indonesia. Tengoklah data BPS tahun 1999, yang menyebutkan bahwa dari total 19.941.528 anak balita, yang menderita gizi buruk dan kurang gizi ada sebesar 5.256.587 anak Balita (BPS, Susenas 1989-2000). Pada tahun 1999, dikabarkan tentang ribuan bayi dan anak balita menderita gizi buruk di Sumatera Barat. Entah berapa yang menderita busung lapar atau marasmus kwarshiorkor. Kematian akibat busung lapar juga bukan kejadian yang baru.
Penelitian untuk menyusun desertasi yang dilakukan dr. Saptawati Bardosono Msc tentang status gizi balita di tiga daerah miskin di Indonesia (pedesaan Alor-Rote di NTT, Banggai di Sulawesi Tengah dan kawasan miskin Jakarta) dari Januari 1999-Januari 2001 menggambarkan buruknya status gizi anak-anak di Indonesia (Kompas, 21 Februari 2003). Perbandingan antara temuan penelitian tersebut dengan kondisi anak-anak berbagai negara yang dikenal sebagai wilayah bencana di bumi ini sangat mengejutkan. Prevalensi wasting (kurus/rendahnya berat badan terhadap tinggi badan) di semua daerah penelitian melebihi 20 persen. Kondisi ini jauh lebih buruk dari keadaan di Afrika Barat (16 persen) dan Asia Tengah bagian Selatan (15 persen) pada tahun 1996. Menurut WHO, angka kematian akan meningkat secara nyata jika prevalensi wasting lebih dari lima persen (5%).
Lebih lanjut, penelitian itu menemukan tingkat keparahan stunting (pendek/rendahnya tinggi badan terhadap usia) di semua daerah penelitian (tahun 1999-2000) lebih tinggi dibanding kondisi Kongo saat devaluasi mata uang Afrika tahun 1994. Prevalensi stunting anak balita di pedesaan Alor-Rote (48 persen) menyamai prevalensi stunting di Afrika Timur (48 persen) dan melebihi Asia Tengah bagian Selatan (44 persen) pada tahun 2000. Keadaan Alor-Rote lebih buruk dari Sudan setelah kekeringan tahun 1983-1985. Prevalensi stunting kawasan miskin Jakarta 26 persen dan Banggai (Sulawesi Tengah) 28 persen. Stunting meningkatkan angka kematian, menurunkan fungsi kognisi dan intelektual serta meningkatkan resiko penyakit degeneratif seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Selanjutnya, prevalensi Anemia anak balita di Alor-Rote (75 persen) mirip Asia Tengah bagian Selatan. Sedangkan Banggai (52 persen) mirip Afrika Barat (56 persen) dan Jakarta (68 persen) polanya antara Afrika Timur dan Asia Tengah Bagian Selatan. Anemia berkait erat dengan proporsi angka kesakitan anak (infeksi saluran pernafasan, demam, diare) akibat rendahnya asupan makanan sebagai sumber zat besi.
Survei Pemantauan Status Gizi dan Kesehatan (Nutrition & Heatlth Surveillance System) oleh Helen Keller Foundation selama 1998-2002 menunjukkan kenyataan tentang 10 juta anak balita yang berusia enam bulan hingga lima tahun – setengah dari populasi anak balita di Indonesia — menanggung resiko kekurangan Vitamin A. Disebutkan, makanan anak-anak tersebut sehari-hari di bawah angka kecukupan Vitamin A yang ditetapkan untuk anak balita, yaitu 350-460 Retino Ekivalen per hari (Kompas, 30 Juli 2003).
Artinya, anak-anak yang tidak dicukupi kebutuhan Vitamin A akan mengalami gangguan kesehatan mata, kemampuan penglihatan, maupun kekebalan tubuhnya. Laporan survei itu lebih jauh menyatakann bahwa sebagian anak-anak balita itu menderita penyakit mata dalam stadium lanjut akibat kekurangan Vitamin A, sehingga tidak dapat disembuhkan. Anak-anak balita tersebut mengalami kerusakan bola mata dari keratomalasia (sebagian dari hitam mata melunak seperti bubur), ulaserasi kornea (seluruh bagian hitam mata melunak seperti bubur) hingga kondisi parah xeroftalmia scars (bola mata mengecil dan mengempis).
Selamatkan Anak-anak
Berbagai literatur menyatakan bahwa keberadaan wasting, stunting dan anemia akibat kekurangan asupan makanan yang bergizi pada bayi dan anak balita adalah bagian dari lingkaran setan kemiskinan dan penyakit infeksi. Kemiskinan mengakibatkan rendahnya tingkat pendidikan orang tua, buruknya lingkungan perumahan dan tidak adanya akses terhadap air minum dan sanitasi. Juga keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar lain dan pelayanan sosial termasuk pangan, kesehatan dan pendidikan.
Ada sebuah postulasi bahwa keberadaan orang lapar apalagi bayi dan anak balita busung lapar merupakan pengujian utama terhadap adil dan efektifnya sistem sosial dan ekonomi di sebuah negara. Demikian mendasar fungsinya, sehingga melalui sistem pangan masyarakat (produksi – distribusi – konsumsi) dapat dipakai sebagai jendela untuk memahami sebuah masyarakat. Kelaparan yang diderita bayi dan anak balita di Indonesia jelas menunjukkan tidak adil dan efektifnya sistem sosial dan ekonomi negara Republik Indonesia.
Negara bertanggungjawab atas tragedi kemanusiaan ini. Akan tetapi, bertahun-tahun sudah anak-anak kelaparan dan belum pernah DPR membentuk Panitia Khusus (Pansus) Kasus Anak Busung Lapar atau Panitia Kerja (Panja) untuk Anak-anak Kelaparan. Kita tidak dapat mengharapkan para anggota DPR yang terus sibuk dengan Mukernas, rapat partai, kunjungan kerja, Pilkada dan Pemilu untuk tertarik mengurus soal anak busung lapar. Kita juga sangat sulit membayangkan administrasi pemerintah bekerja dalam kerangka organisasi yang terpadu bergerak cepat mengatasi soal busung lapar. Advokasi masalah ini pada tingkat kebijakan adalah penting.
Menuntut pertanggungjawaban negara adalah sebuah keharusan. Akan tetapi, jutaan anak-anak yang menderita lapar tidak dapat menunggu. Sebelum tiba pada penyelesaian di tataran politik nasional, banyak anak yang menjadi cacat (mental dan fisik) dan meninggal dalam penantian. Jutaan anak-anak tidak dapat menunggu dibentuknya Pansus atau Panja atau Tim Pencari Fakta (TPF) Kematian Anak Balita Akibat Busung Lapar atau BAKORNAS Penangulangan Busung Lapar. Harus ada tindakan, sekecil atau sesederhana apapun, untuk dapat menolong anak-anak yang menderita kelaparan.
Promosi Sayuran Hijau
Salah satu cara untuk membantu menyelamatkan bayi dan anak balita dari kekurangan gizi adalah dengan mempromosikan sayuran daun hijau. Sayuran daun hijau sudah dikenal sebagai penghasil utama dari segala macam vitamin, mineral dan protein yang dibutuhkan oleh tubuh. Prof. Dr. Poorwo Soedarmo, perumus slogan “Empat Sehat Lima Sempurna,” dan kawan-kawannya telah membuat sebuah daftar sederhana sayuran hijau khas Indonesia yang dapat ditanam dengan mudah: bayam, beluntas, enceng padi, gelang, gedi, gendola, genjer, jotang, kabak, kacang panjang, kaki kuda, krokot, kangkung, katuk, kemangi, kelor, labu-labuan, leunca, mangkokan, melinjo, mengkudu, paku sayur, pepaya, sawi putih, selada air, sesawi, singkong, turi, talas, ubi jalar dan yute. Sayuran daun hijau sangat perlu untuk ibu-ibu yang sedang mengandung dan menysui. Dengan demikian anak dalam kandungan mendapat pasokan gizi yang baik yang memungkinkan pertumbuhan janin di dalam rahim. Dengan memakan sayuran daun hijau, Ibu yang sedang menyu
sui telah memberikan makanan yang bergizi pada anaknya melalui ASI. Sayuran daun hijau juga harus segera diberikan pada bayi begitu ia membutuhkana makanan tambahan di luar ASI. Semangkuk bubur yang dicampur dua genggam sayuran daun hijau dan sepotong tahu atau tempe cukup memadai sebagai sarapan anak-anak yang telah tumbuh gigi. Sepiring nasi dengan sayuran daun hijau yang diolah menjadi kuluban, urap, pecel atau tumis dapat mempertahankan daya hidup dan pertumbuhan anak balita. Kandungan gizi sayuran daun hijau telah terbukti ribuan tahun mempertahankan hidup komunitas yang berpantang memakan daging seperti para pendeta Budha. Kaum vegetarian yang terus berkembang bisa bekerja seperti sama produktifnya dengan mereka yang memakan daging.
Otonomi Nutrisi
Untuk mendapatkan bahan makanan, terutama sayuran daun hijau, di daerah pedesaan adalah dengan melakukan otonomi nutrisi. Artinya, penduduk pedesaan, khususnya petani miskin dengan tanah terbatas harus mengutamakan tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarganya secara langsung. Setelah makanan keluarga terpenuhi barulah dapat diusahakan produk pertanian yang akan diniagakan.
Untuk sebagian penduduk pedesaan, persoalan dapat diselesaikan melalui penggunaan rasional ruang yang ada, sesempit apapun adanya. Penduduk pedesaan dapat secara berkelanjutan memenuhi kebutuhan bagian penting dari kebutuhan gizi dengan sayuran daun hijau yang dihasilkan secara langsung di sekitar rumah. Berbagai proyek telah menunjukkan bahwa tanpa bahan-bahan dari luar dan dengan biaya yang sangat rendah. Tanah seluas 40 meter persegi dapat menghasilkan pangan untuk mencukupi kebutuhan anggota keluarga (5 orang) akan mineral dan Vitamin serta 18 % dari jumlah total protein yang dibutuhkan seperti yang disarankan WHO. Luas tanah kurang dari 100 meter persegi adalah sangat relevan dengan keadaan penduduk pedesaan di Indonesia.
Kebun Organik Keluarga
Untuk kawasan perkotaan, model yang diterapkan oleh warga Kampung Banjarsari, Kelurahan Cilandak, Jakarta Selatan bisa dijadikan contoh (Kompas, 4 Juni 2005). Warga di kampung tersebut, tepatnya RW 08, berhasil menata dan menciptakan lingkungan tempat tinggal yang hijau, sejuk dan nyaman dengan cara yang sangat kreatif. Disekitar rumah masing-masing, warga menanam beragam tumbuhan. Ada tanaman produktif, tanaman pelindung, tanaman hias dan tanaman yang berkhasiat obat. Karena tidak ada lahan untuk menanam tumbuhan, warga Kampung Banjarsari menggunakan media pot untuk menanam tanaman. Pot-pot yang digunakan bervariasi dan banyak menggunakan barang bekas seperti bekas drum sampai bekas air mineral kemasan gelas. Ribuan tanaman pot ditata sehingga membentuk rerimbunan tanaman. Usaha seperti itu tidak membutuhkan biaya besar. Di Kampung Banjarsari, petugas RW bekerjasama dengan dinas pertanian untuk mendapatkan bibit-bibit tanaman yang murah. Dana untuk membeli bibit dikumpulkan dari iuran warga. Inisiatif tersebut dapat dikembangkan untuk menghasilkan sayuran daun hijau. Untuk memperkaya jenis tanaman di kebun organik keluarga, bibit bisa didapatkan dengan berburu tanaman atau saling tukar bibit antara warga.
Penutup
Sayangnya, tulisan ini kemungkinan besar tidak bisa dibaca oleh kelompok masyarakat yang sedang dirundung kelaparan: keluarga-keluarga yang sedang menatap anak-anak mereka yang tergolek lunglai. Para pembaca tulisan ini, diharapkan dapat membantu sesuai dengan kesempatan dan kemampuan masing-masing. Para guru sekolah maupun guru agama adalah kelompok yang paling diharapkan menjadi pendorong bagi keluarga para murid-murid untuk mengenal dan menghargai sayuran daun hijau sebagai sumber gizi yang utama. Guru dapat meluangkan sedikit waktu di sela pelajaran untuk bertanya tentang apa saja yang dimakan para murid dan sekaligus memperkenalkan khasiat sayuran daun hijau dan bagaimanan cara bercocok tanam.Para ketua RT dan ketua RW yang sangat mengenal warga dan wilayahnya sangat penting dalam gerakan memakan sayuran hijau untuk menekan kasus kurang gizi dan gizi buruk. Pertemuan-pertemuan warga dapat diisi dengan mengenal berbagai sayuran daun hijau dan manfaatnya bagi tubuh.Urun pikiran diantara para pembaca untuk menolong bayi dan anak balita dari kekurangan gizi akan mengembangkan berbagai kegiataan. Sambil bekerja kreatif untuk menolong bayi dan anak balita, kita tetap harus membangun kekuatan untuk menuntut negara bertanggung jawab atas kelaparan yang dialami jutaan bayi dan anak balita di Indonesia.

Nah .. teman-teman .. tulisan ini membawa kita untuk membuka kesempatan untuk menolong sodara-sodara kita yang berada dalam suatu komunitas yang sebagian besar miskin. Ternyata penyelesaian yang sederhana sudah bisa dijadikan solusi gizi buruk. Promosi Sayuran Hijau, Otonomi Nutrisi dan Kebun Organik Keluarga bisa jadi solusi mudah untuk keluarga miskin dan masyarakat di sekitarnya yang sudah greget menyelesaikan masalah.

Semoga bisa jadi masukan yang baik.

post ini dibuat dengan windows live writer ® yg dapat anda temukan di blog pom | hkn | idi | pkm

About these ads
 
14 Comments

Posted by on 22/03/2009 in Gizi Buruk, Kesehatan

 

14 responses to “Lihatlah: "Anak-Anak Kelaparan"

  1. pandi merdeka

    23/03/2009 at 06:14

    hihihi pas nih.. kebun organik keluarga … dari dulu sebenernya dah kenal konsep apotik hidup di rumah.. tapi emang kayaknya bercocok taman nggak semudah apa yang dibayangkan.. mesti sabar dan telaten juga.. and pasti bimbingan dari pakar pertanaman.. amd kayaknya kebun organik lebih pantes dicoba deh :D tak repost ulang ya :wink:

     
    • draguscn

      23/03/2009 at 06:32

      Silahkan Pandi Merdeka ..
      Ya .. sebenernya di desa cukup mudah .. halaman masih luas .. bibit murah meriah .. tinggal pembiasaan dan pemanfaatannya tepat sasaran .. lah kalo ditanam tapi kemudian hanya untuk dijual repot juga yach ..

       
  2. gemala qurbani

    23/03/2009 at 09:00

    tulisan yang menarik pak…
    saya berdomisili di ntb tepatnya di mataram dan sekilas saya lihat masalah higiene sanitasi di sini juga masih kurang dan prioritas pemberian makanan bergizi ke anak juga masih kurang, dibutuhkan dukungan holistik untuk mengatasi hal tersebut.
    saya ingin bertanya pak?
    kira-kira langkah konkrit apa yang bisa saya lakukan bila ingin membantu mereka??
    bergabung dengan lembaga atau institusi??atau bgm
    terima kasih pak

     
  3. noviansyah

    23/03/2009 at 09:36

    Tahun 2000 kami membantu kepala dinas kesehatan KOTA TANGGERANG melakukan urban agriculture di pemukiman sekitar bandara cengkareng..untuk urban poor.

    Mereka diajarkan dan diberi bibit untuk bercocok tanam di lahan sempit dan lahan nganggur. Juga dipinjamkan per keluarga 10 ekor ayam (tentunya ayam utuh…bukan ekornya aja…haha). Pakan disediakan di warung (tapi mereka harus beli) sedangkan telur dijual secara kolektif
    Waktu itu belum merebak flu burung.

    Tanaman dan ternak ayam dikelola dengan cara budidaya organik atau LEISA (LOW EXTERNAL INPUT ON SUSTAINABLE AGRICULTURE), jadi penggunaan input luar (yg harus beli) sesedikit mungkin..dan mengajarkan kepada mereka bagaimana menggunakan sumberdaya yang ada disekitar mereka untuk budidaya.

    Tujuannya sama dengan tulisan di atas, keluarga miskin kota dapat memenuhi gizi keluarga dan yang penting juga dengan melakukan urban agriculture mereka mendapatkan peningkatan pendapatan keluarga.
    Yang ‘mengharukan’ adalah inisiatif warga untuk menyumbang 1 butir telur (dari hasil ternaknya) setiap minggu untuk posyandu yang ada di sana. Digunakan untuk acara makan2 ibu2 dan anak2.

    Karena dukungan yg baik dari walikota dan kepala dinkes, dan instansi lain masuk utk kontribusi (air bersih, sanitasi lingkungan, dll), termasuk dukungan industri sekitar untuk melatih membuat produk dari sisa limbah pabrik (membuat bola, boneka, keset, tas, dll).

    Pada waktu itu Ibu Erna Witoelar sampai mengatakan bahwa wilayah sekitar bandar dapat menjadi laboratorium hidup…

    2 tahu program ini berjalan dengan baik, paling tidak terjadi peningkatan pendapatan dan pemenuhan gizi keluarga (ibu anak) menjadi lebih terjamin dan terjaga.
    Sayangnya ketika walikota dan kepala dinkes berganti program ini hilang..

    Menurut saya kelemahan program ini waktu itu:
    1. sangat tergantung dari bantuan pemda dan campur tangan pemda yang sangat besar.
    2. masyarakat tidak disiapkan untuk mandiri setelah program berakhir. Jadi strategy phase-out tidak dipikirkan.
    3. sulit bekerja dengan pemda dalam pendanaan (maksudnya ada saja jalan buat mereka mengurangi budget–means korupsi!)

    untuk urban poor pemenuhan kebutuhan hidup menjadi sangat penting, sehingga harusnya skala usaha untuk urban agriculture perlu diperbesar (kebanyakan mereka bekerja sebagai buruh, pemulung, dll).

    Konsep peningkatan kualitas hidup urban poor dengan urban agriculture sebenarnya dapat dikaitkan dengan mengelolaan limbah kota (municipal waste) untuk menjadi sumberdaya pertanian…jadi kompos, dll. Juga mengkaitkan dengan kontribusi memproduksi dan mengkonsumsi produk lokal untuk menghasilkan kota mandiri (tidak terlalu tergantung produksi dari luar kota tersebut).
    Dengan hal tersebut sebenarnya kita berkontribusi dalam gerakan masyarakat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (artinya mengurangi konsumsi produk dari wilayah lain yg jauh..yang harus dikirim dg menggunakan bahan bakar fosil..–bahasa kerennya “low carbon-print lifestyle”)

    Titik kritis dalam program seperti ini adalah pelibatan perempuan (ibu2) dan anak dalam bercocok tanam (cuma hati2 jgn sampai dituduh mengeksplotasi anak..child labour)..karena biasanya bapak2 sibuk bekerja sedangkan yg memiliki waktu lebih adalah ibu2.

    Noviansyah Manap.

     
    • draguscn

      23/03/2009 at 17:59

      Komparasi yang menarik dengan wilayah perkotaan. Di cause juga teman-teman dari batam keberatan penyelesaian seperti ini .. karena di tanah mereka satu-satunya tanaman yang bisa tumbuh adalah bangunan. Hotel, perumahan bisa subur disana .. tapi tanaman mereka nyerah ..
      Yach ngga papa lah setidaknya kita sudah mulai menyusun peta .. meski ngga bisa berlaku nasional, minimal ada yang bisa kita ajukan sebagai pilihan.

      Coba acara ngumpul kemaren itu lumayan banyak disiplin ilmu ya Nov .. kapan bisa gitu lagi ..

       
  4. roni

    23/03/2009 at 13:08

    saya sepakat dengan saudara lefi dengan solusinya. banyak lahan yang bisa kita gunakan untuk menanam sayuran di sekitan rumah. tetapi kebanyakan orang hanya menggunakan untuk memelihara tanaman hias yang harganya ratusan ribu bahkan sampai puluhan juta rupiah. kebanyakan dari masyarakat kita lebih mengejar prestice kebanding hidup sehat secara alami.
    salah satu strategi yang harus kita lakukan yaitu kampanye tentang penggunaan lahan kosong yang ada dirumah untuk menyokong persiapan gizi untuk rumah tangga. yang organik lebih baik. ya….kalau mau dihitung-hitung lebih murah kebanding beli dipasar, tidak pakai ongkos jalan lagi….

     
    • draguscn

      23/03/2009 at 18:01

      wah bener juga .. jd kesindir juga nih .. hihihi

       
  5. limpo50

    04/04/2009 at 19:59

    saya mencari calon presiden dari daerah ini… biar langsung tuntas saja…TAS TIS TUS.

     
    • draguscn

      05/04/2009 at 04:39

      Wah repot kalo sudah kedaerahan gini kemungkinan besar kepada Pak JK nih dukungan mengalir :-D

       
  6. limpo50

    04/04/2009 at 20:02

    data BPS…waduh.. banyak asal-asalannya. data ditembak dari bawah pohon. buat pemilu tak punya kontribusi… siapa yang tidak percaya ??? khan pemerintah sendiri… lihat bagaimana PBS ditinggalkan saja dalam tiap acara pemilu…sungguh pilu.

     
    • draguscn

      05/04/2009 at 04:49

      Bukan berarti ngga ada yang bisa kita ambilkan, Pak? Sy juga kecewa dengan kinerja BPS setelah tahu “aslinya” di desa-desa .. padahal dulu saya jadi surveyor angka kematian dengan sepenuh hati .. soale sy bersyukur banget dengan uang transportnya yg lumayan besar.
      Keliatannya di jawa inipun sudah lumayan besar yg dianggarkan. Ngga tahu juga sampe ke surveyornya tinggal berapa persen sehingga yang ngerjakan bisa kacau. Data KK miskin kami untuk program PKH 2008 kemaren sangat ajaib. Yach .. semoga aja ada perbaikan ..

       
  7. Firza

    11/04/2009 at 18:25

    Mantap nih infonya..

     
  8. PKL INTEGRASI KELOMPOK 1

    11/05/2011 at 11:03

    terima kasih dokter artikel sangat membantu kami….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: